Recent Posts

    Mengenal Martir Kristen di Korea Utara: Robert Jermain Thomas


    Natal adalah hari raya besar yang dirayakan oleh jutaan umat Kristen di seluruh dunia. Saat keramaian dan lampu berkelap-kelip menghiasi kota-kota besar, ornamen natal dipasang di pusat perbelanjaan, hal serupa tidak terjadi di Korea Utara.

    Korea Utara tidak memperingati Natal secara publik, atau lebih tepatnya dirayakan secara rahasia. Bagi warga Korea Utara, menunjukkan kepercayaan agama dapat berakibat masuk penjara, atau bahkan lebih buruk lagi. Dengan kondisi itu, sulit mengetahui siapa warga Korut yang ingat kematian seorang misionaris 150 tahun yang lalu di tepi Sungai Taedong.


    Robert Jermain Thomas adalah sosok asal Wales yang membawa ajaran Kristen ke Semenanjung Korea. Atas peran besarnya tersebut, hari meninggalnya Thomas pada akhir Agustus 1866, diperingati secara besar-besaran di gereja-gereja di Cardiff, Wales dan Seoul, Korea Selatan. Berbeda dengan Pyongyang, tempat di mana Thomas meninggal karena membela agama.

    Sebab-sebab pasti kematiannya masih belum jelas, tapi diketahui bahwa dia adalah seorang misionaris yang dikagumi oleh Korea. Pada saat pengaruh Barat ditakuti dan ditolak, Salah satu versi cerita adalah Thomas berlayar dengan kapal Amerika untuk menyebarkan Kekristenan. Namun pada saat itu terjadi penolakan dari anggota militer yang sedang berjaga. Thomas meninggalkan kapal yang terbakar dan ditangkap oleh pasukan di darat. Dikatakan bahwa dia saat itu berlutut dan memberikan sebuah injil kepada algojonya sebelum Thomas dibunuh.

    Legenda tentang Thomas dan teladannya

    Misionaris Korea Utara Robert Jermain Thomas
    Robert Jermain Thomas

    Legenda tersebut menggaung dengan keras 150 tahun kemudian di Korea Selatan, dan di tempat asalnya, Wales. Gi Jung Song, seorang pastor dari Korea di Cardiff mengatakan kepada BBC, "Korea berada pada masa-masa kegelapan spiritual hingga pria muda Wales ini membawakan injil. Dia dibunuh sesaat setelah kedatangannya tetapi kematiannya berpengaruh di seluruh Korea. Orang yang membunuhnya menjadi penganut Kristen dan rumahnya menjadi gereja."

    Pengaruh tersebut tumbuh berkembang setelah kematian Thomas. Pyongyang menjadi pusat Kristen yang kuat dengan munculnya ratusan gereja 15 tahun kemudian.

    Selang satu abad berlalu, Korea mulai mencari inspirasi di Wales. Imbasnya, Welsh Religious Revival 1904 digemakan oleh penganut Kristen di Korea pada 1907.

    Baca juga: Jim Yost: Misionaris Asal Amerika Bagi Suku Sawi, Papua


    Pada saat ini para dokter dari Wales, membantu membangun sebuah sekolah medis di Pyongyang, tapi mereka diundang ke sana karena keahlian mereka.

    Seorang penganut Kristen yang sering mengunjungi Korea Utara mengatakan kepada BBC bahwa waktu dia pergi ke Pyongyang, dia diam-diam mencoba untuk mencari tempat peristirahatan terakhir Robert Jermain Thomas,

    "Saya belum berhasil menemukan makamnya, tapi di pulau tersebut (di tengah-tengah Pyongyang, tempat ia diperkirakan meninggal) ada satu-satunya kawasan di mana perahu dapat berlabuh dan ada pepohonan tua di sana."

    Pepohonan ini, katanya, dijaga sebagian karena merupakan tempat pertemuan antara Kim Il-sung, bapak diktator pertama Korea Utara, dengan Syngman Rhee, presiden pertama Korea Selatan.

    Seorang Korea di Wales, Jacob Park, mengatakan dia telah bertemu dengan para pembelot Korea Utara yang mengatakan mereka mengetahui tentang kematian Thomas tapi tidak mengetahui tentang maknanya. "Para pembelot mengetahui tentang Robert Jermain Thomas sebelum mereka meninggalkan Korea Utara, tapi mereka diberi tahu bahwa Thomas adalah pencuri dan sosok imperialis. Waktu mereka mengetahui cerita sebenarnya, mereka menerima Thomas sebagai pahlawan."

    Baca juga: Kepulauan Solomon: Seluruh Suku Kanibal Terima Kristus Setelah Kepala Suku Diinjili, Meninggal dan Bertemu Yesus


    Orang-orang Kristen di Korea Utara, seperti penduduk lainnya negara itu, merasa susah untuk mendapatkan informasi yang dapat dipercaya. Ada empat gereja di Pyongyang, tapi sulit diketahui apakah gereja-gereja tersebut merupakan tempat peribadatan yang benar.

    Ada banyak informasi di media massa tentang Korea Utara, banyak di antaranya tidak kredibel, jadi susah dipastikan apakah berita-berita yang beredar adalah benar.

    Pada September 2016, kelompok pegiat Kristen, Christian Solidarity Worldwide, menerbitkan sebuah laporan yang mengatakan, "Di antara hak-hak asasi manusia yang disangkal oleh Korea Utara, kebebasan beragama atau kepercayaan sebagian besar tidak diakui. Penyangkalan hak asasi ini terjadi sejak 1950-an, dan pemimpin saat ini, Kim Jong-un, melanjutkan pelanggaran kebebasan beragama warga negaranya."

    Misionaris Kristen lain di Korea

    Informasi yang tak disangkal kebenarannya adalah mereka yang mencoba menyebarkan ajaran Kristen ke Korea Utara dimasukkan ke dalam penjara dan melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar, kadang-kadang setelah mereka diancam dengan eksekusi mati. Pada Desember 2015, seorang pastor dari Toronto, Kanada, Hyeon Soo Lim, ditahan di Korea Utara (dikonfirmasi oleh pihak berwenang) atas percobaan untuk menggulingkan pemerintahan.

    Para pejabat Kanada berkunjung ke Korea Utara pada Desember 2016 untuk memohon melepaskannya. Seorang diplomat Kanada mengatakan setelah itu, "Pemerintah Kanada sangat mengkhawatirkan kesehatan, kondisi mental, dan kelanjutan penahanan Lim."

    Baca juga: Sebelum Dibunuh, Misionaris Ini Membimbing 1.000 Orang Dari Korea Utara kepada Kristus


    Lim bukan satu-satunya korban penangkapan Korea Utara atas umat Kristen. Bahkan seorang pendeta yang bekerja di China untuk membantu para pembelot dari Korea Utara ditemukan terbunuh setelah dipukuli dan diserang dengan sebuah kapak. Kelompok pegiat Kristen menduga agen-agen Korea Utara beroperasi di perbatasan China.

    "Han Choong Yeol aktif membantu pengungsi Korea Utara dengan memberikan makanan, obat-obatan, baju dan keperluan lain yang mereka butuhkan untuk bertahan di Korea Utara," kata Open Doors, organisasi yang membantu umat Kristiani yang tertindas di seluruh dunia. Robert Jermain Thomas, tampaknya, bukanlah martir Kristen terakhir di Korea.

    Baca juga: Pendeta Ini Selamatkan 300 Warga Korut Melalui 'Kereta Api Bawah Tanah'

    (Sumber: bbc.com)

    Belum ada Komentar untuk "Mengenal Martir Kristen di Korea Utara: Robert Jermain Thomas"

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel


    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel