Recent Posts

    Bagaimana Gereja-Gereja di Berbagai Belahan Dunia Menanggapi Wabah Coronavirus (COVID-19)


    Bagaimana seharusnya gereja merespons COVID-19? Itulah pertanyaan yang dihadapi oleh jemaat di seluruh negeri karena Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini menyatakan COVID-19 sebagai pandemi. Haruskah mereka melanjutkan kebaktian hari Minggu? Haruskah mereka membatalkan kelompok kecil atau Sekolah Minggu? Haruskah mereka mengubah praktik mereka untuk melayani Perjamuan Tuhan atau melewati piring persembahan?

    Nah, dengan menjangkitnya coronavirus secara global, gereja-gereja dan rumah ibadah mengambil tindakan pencegahan dan melakukan semua yang mereka bisa untuk melindungi jemaat mereka dan orang lain dari virus.


    Para pengunjung gereja telah diminta untuk berhenti berjabatan tangan, gelas-gelas komunal disimpan, dan genangan air suci dikeringkan. Seorang pendeta St. Paul, Minn., membagikan Purell (hand sanitizer) ke tangan masing-masing orang pada hari Minggu ketika mereka berbaris untuk komuni.

    Dan di Italia, rumah Vatikan, umat Katolik merayakan Misa dari rumah selama akhir pekan, beberapa hari setelah Paus Fransiskus, yang dites negatif untuk virus tersebut, membatalkan rencana karena flu.

    Keuskupan di Roma meminta para anggota bahwa tanda perdamaian, biasanya jabat tangan atau pelukan, dihilangkan dari Misa, bahwa umat beriman menerima Komuni Suci di tangan, dan bahwa tempat air suci dibiarkan kosong, menurut Pendeta Ryan Black.

    Keuskupan Agung Santa Fe, Meksiko, mengumumkan pada Kamis bahwa misa akan dibatalkan untuk waktu dekat.

    Gereja Sagebrush memberi tahu para anggotanya yang berencana menghadiri kebaktian akhir pekan di salah satu lokasi di sekitar New Mexico untuk tinggal di rumah.

    Baca juga: 'Digerakkan Kasih Tuhan dan Kasih Akan Sesama' - Gereja dan Perguruan Tinggi Kristen Buat Perubahan Besar untuk Memerangi Virus


    "Perhatikan, saya tidak mengatakan jangan pergi ke gereja. Saya berkata tetap di rumah dan bergabunglah dengan kami untuk gereja online," kata Pastor Todd Cook, yang merilis video YouTube pada Jumat.

    Tetapi di Gereja St. Boniface Martyr di Long Island, N.Y., Pendeta Kevin Dillon merekomendasikan saling membenturkan kepalan tangan sebagai alternatif untuk mengekspresikan tanda perdamaian.

    "Daripada berjabat tangan atau mungkin memberi ciuman kepada seseorang yang kita tahu, Anda mungkin ingin mengangguk atau tersenyum atau mungkin apa yang dilakukan oleh generasi millenial - membenturkan kepalan tangan - atau apa yang direkomendasikan CDC: membenturkan siku," kata Dillon kepada WCBS- AM 880.

    Dalam pesan yang mirip dengan jemaat Yahudi, Kuil De Hirsch Sinai synagoguedi di Seattle mengatakan kepada para anggota untuk menghindari "pelukan dan ciuman" dan sebagai gantinya memilih "benturan siku."

    Keuskupan Agung Santo Domingo, Republik Dominika, merilis pernyataan yang mengatakan bahwa komuni akan diterima di tangan dan hanya imam yang akan minum dari piala. Tanda kedamaian hanya akan menjadi isyarat agar orang tidak memegang tangan dan menyentuh wajah. Menurut Fox News.

    Baca juga: 15 Orang Diselamatkan Hanya Beberapa Jam Sebelum Ibadah Dibatasi Karena Wabah Virus Corona


    Gereja New Creation Church milik Pastor Joseph Prince di Singapura mengambil tindakan pencegahan ekstra untuk melindungi 33.000 anggota megachurch dari virus. Ada pemeriksaan suhu di pemindai panas mutakhir, pembersih tangan dan mereka berhenti mengoperkan "tas persembahan" selama pelayanan, mendorong jemaat untuk memberikan donasi online di kotak persembahan setelah kebaktian.

    Gereja juga mendisinfeksi setiap lokasi dengan alat sterilisasi udara di kelas anak-anak, menurut situs web mereka.

    Gereja Pantekosta terbesar di dunia, Yoido Full Gospel Church, yang berlokasi di Seoul, melakukan kebaktiannya secara online.

    Pemimpin sekte keagamaan kontroversial dan rahasia di Korea Selatan, Senin, meminta maaf karena menyebabkan penyebaran virus secara massal dalam wabah terbesar di luar Tiongkok. Kepala Gereja Shincheonji, Lee Man-hee, mengklaim bahwa ia adalah kedatangan kedua Yesus Kristus, dan sekte-nya lambat memberikan informasi kepada para pihak berwenang karena takut akan keselamatan bagi para anggota mereka.

    Dengan lebih dari 3.081 kasus terkait dengan kelompok itu, Walikota Seoul Park Won-soon mengajukan pengaduan pidana terhadap Lee dan 12 lainnya, dengan tuduhan pembunuhan dan pelanggaran tindakan pengendalian penyakit.

    Baca juga: Korea Selatan Meminta Gereja-Gereja Menghentikan Pertemuan Sampai Coronavirus Terkendali


    Beberapa pendeta Kristen telah menyerukan untuk mengakhiri coronavirus dengan acara doa global Selasa, yang dibawakan oleh Cindy Jacobs. Bulan lalu, para rabi di Israel mengadakan acara doa di Tembok Barat di Yerusalem untuk mendoakan kesembuhan.

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan pada Minggu, 15 Maret, sebagai Hari Doa Nasional, tak lama setelah menyatakan keadaan darurat di tengah pandemi coronavirus yang menyebar dengan cepat.

    "Di masa kita yang sangat membutuhkan, orang-orang Amerika selalu beralih ke doa untuk membantu membimbing kita melalui cobaan dan periode ketidakpastian," kata presiden itu, menurut laporan Gedung Putih.

    "Ketika kami terus menghadapi tantangan unik yang ditimbulkan oleh pandemi coronavirus, jutaan orang Amerika tidak dapat berkumpul di gereja, kuil, sinagog, masjid, dan rumah ibadah lainnya. Tetapi pada saat ini kita tidak boleh berhenti meminta tambahan hikmat, penghiburan, dan kekuatan kepada Tuhan, dan kita harus secara khusus berdoa bagi mereka yang telah menderita celaka atau yang telah kehilangan orang yang dicintai. Saya meminta Anda untuk bergabung dengan saya dalam satu hari doa bagi semua orang yang telah terkena pandemi coronavirus dan berdoa agar tangan penyembuh Allah diberikan kepada masyarakat Bangsa kita."

    Baca juga: Joel Osteen Batalkan Seluruh Kebaktian Karena Wabah Coronavirus


    "Sebagai Presiden kalian, saya meminta kalian untuk berdoa bagi kesehatan dan kesejahteraan sesama warga Amerika kalian dan untuk mengingat bahwa tidak ada masalah yang terlalu besar untuk ditangani oleh Tuhan. Kita semua harus mengingat kata-kata suci yang ditemukan dalam 1 Petrus 5:7: "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." Mari kita berdoa agar semua yang terkena virus akan merasakan kehadiran perlindungan dan kasih Tuhan kita selama masa ini. Dengan bantuan Tuhan, kita akan mengatasi ancaman ini," tambahnya.

    Trump kemudian men-tweet, "Kita adalah Negara yang, sepanjang sejarah kita, telah memandang kepada Tuhan untuk perlindungan dan kekuatan di saat-saat seperti ini ...., Tidak masalah di mana kalian berada, saya mendorong kalian untuk beralih ke doa dalam tindakan iman. Bersama-sama, kita akan dengan mudah MENANG!"

    Di Indonesia sendiri PGI telah menghimbau agar gereja melaksanakan ibadahnya melalui siaran langsung secara online sehingga mengurangi pertemuan tatap muka demi mencegah penyebaran virus corona yang saat ini sedang mewabah.

    "Saya juga sudah menyarankan untuk mempertimbangkan alternatif persekutuan dan ibadah dengan memanfaatkan media sosial dan teknologi digital dengan mengembangkan e-church," kata Ketua PGI, Pendeta Gomar Gultom, melalui keterangan tertulis, Minggu (15/3/2020).

    Meski sudah ada beberapa gereja yang menerapkannya, Gomar tak memungkiri ada pula gereja yang terkendala masalah infrastruktur.

    Ia berharap, gereja-gereja dapat lebih siap ke depannya agar umat dapat beribadah di rumah.

    Baca juga: Demi Cegah Virus Corona, PGI Imbau Kembangkan e-Church


    Sementara itu, gereja yang masih menyelenggarakan ibadah diharapkan menyediakan sejumlah fasilitas, seperti pengukur suhu tubuh dan peralatan disinfektan.

    "Gereja yang masih menyelenggarakan ibadah hari ini, kemarin telah saya imbau untuk menyediakan fasilitas cuci tangan, alat pengukur suhu tubuh umat di pintu masuk dan agar melakukan disinfektan ruang ibadah sebelum ibadah dimulai," ujar Gomar.

    Dia mengimbau masyarakat agar tidak saling menyalahkan dan mencurigai satu sama lain. Namun, perlu bergotong royong menanggulangi wabah virus corona.

    Dia mengajak para pelayan gereja untuk tetap menjalankan tugasnya melayani umat, terutama yang membutuhkan topangan doa dan pendampingan. Dia imbau tidak perlu panik mendampingi umat yang terpapar penyakit, tetapi tetaplah waspada dan hati-hati.

    Baca juga: Dokter yang Terinfeksi COVID-19 Mengatakan Iman Kristennya Membuatnya Tetap Tenang (Video)

    (Sumber: Believersportal)

    Belum ada Komentar untuk "Bagaimana Gereja-Gereja di Berbagai Belahan Dunia Menanggapi Wabah Coronavirus (COVID-19)"

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel


    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel