Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dalam Pengalaman Menjelang Kematiannya, Yesus dan Setan Memperdebatkan Hidupnya


Pada pesta berenang musim panas dengan teman kelompok remaja setelah pulang gereja, hal yang tidak terpikirkan terjadi pada Steffani Besch. Seorang remaja dengan iseng mendorongnya ketika dia berdiri di samping kolam renang, kepalanya terbentur di pinggir kolam dan dia kehilangan kesadaran dan tenggelam ke dasar kolam selama 30 menit.

Pada saat itu Steffani (13 tahun), tinggal bersama keluarganya di Dodge City, Kansas. "Ayah baru saja mengambil pekerjaan baru di Longmont Colorado, jadi dia memberi tahu kami pada malam sebelumnya bahwa kami akan pindah dalam dua minggu, jadi begitulah pesta renang itu terjadi", kenangnya.


"Hari berikutnya, Minggu 29 Juli 1979, saya memberitahu group remaja saya bahwa kami akan pindah."

Setelah kebaktian, delapan orang anggota group remajanya pergi dari kota Dodge ke Jetmore. Karena kolam renang lokal ditutup untuk pemeliharaan.

Itu adalah hari yang panas di musim panas dan kolam renangnya sangat ramai. Seseorang membiarkan lebih banyak orang masuk melebihi kapasitas kolam itu, dan kandungan klorin dalam air melebihi batas, sehingga kolam tampak keruh.

Banyak percikan air, aktifitas, dan anak-anak bermain tag, serta banyak permainan lain juga. Steffani dan temannya Tami berenang menuju kolam yang dalam.

Setelah beberapa saat penjaga kolam meniup peluit untuk beristirahat selama 10 menit dan semua orang keluar dari air. Setelah istirahat Steffani dan Tami berdiri di pinggir kolam dan berbicara. Mereka tidak memperhatikan teman mereka Tad menyelinap di belakang mereka dengan keusilannya.

Baca juga: Imam Muslim Bertemu Yesus Setelah Mengalami Kematian


Dia mendorong kedua gadis itu ke air. Tami terlempar cukup jauh dari tepian, tetapi Steffani tersentak ke belakang dan kepalanya mengenai semen.

"Itu membuat saya pingsan dan tenggelam ke dasar kolam"

Dia bahkan tidak menjerit! Di tengah hiruk-pikuknya anak-anak yang berenang, tidak ada yang memperhatikan tubuhnya melayang ke bawah.

Ketika Tami keluar dia mencari Steffani dan melihat di dalam air, tetapi dia mengira Steffani berenang ke seberang. "Dia menunggu, dan menunggu, dan ketika aku tidak kembali dia tidak dapat melihatku lagi. Dia tidak tahu ke mana aku pergi."

Dia memeriksa dengan anak-anak lain di grup remajanya. Akhirnya dia merasa ada yang tidak beres. Dia pergi ke penjaga kolam perempuan yang ada saat itu.

"Aku tidak bisa menemukan temanku dan aku takut" dia menangis.

Baca juga: Gadis Muslim Dibunuh dan Dilemparkan ke Dalam Sumur oleh Ayahnya Namun Dihidupkan Kembali oleh Yesus

Luar biasa, penjaga kolam itu menolaknya. "Jika seseorang membutuhkan bantuan aku akan melihatnya" kata penjaga itu dengan kasar. "Kamu harus pergi dan mencarinya".

Tami pergi ke anak-anak lain dalam group remaja dan berbagi kekhawatirannya.

Aliran air kolam begitu kuat sehingga menarik Steffani ke dasar dan mencengkeramnya dengan kuat. "Anak-anak bermain kartu dan sebagainya jadi sepertinya ada yang berenang ke dasar kolam. Tidak ada yang memperhatikan.

Tapi jam terus berdetak. Waktu sangat penting ketika seseorang tak sadarkan diri dan berhenti bernafas. Menurut para profesional medis, kerusakan otak permanen dimulai hanya empat menit tanpa oksigen, dan kematian dapat terjadi segera setelah empat hingga enam menit kemudian.

Salah satu putri pendeta, Laurie meneriakkan nama Steffani tapi tak ada yang menjawab.

Grup remaja ini dibagi menjadi beberapa tim dan mulai mencari Steffani di area yang luas itu.

Mereka berkeliling kolam, memeriksa kolam bayi, kios konsesi, memeriksa kedua toilet, memeriksa keluar area berpagar, dan bahkan memeriksa atap karena anak remaja kadang-kadang pergi ke atap untuk berjemur.

Baca juga: 2 Hari di Kamar Jenazah, Wanita Muslim Hidup Kembali Setelah Pegang Tangan Yesus


Akhirnya Cheri putri pendeta yang satu lagi merasa dipimpin untuk melompat ke ujung kolam yang dalam. Dia berenang sedalam yang dia mampu sampai telinganya terasa sakit, tapi hal itu belum membuatnya sampai ke dasar. Tanpa kacamata berenang, matanya nyaris tidak dapat melihat bentuk tubuh di bawahnya.

Tiga puluh menit berlalu sejak Steffani menghilang.

Cheri keluar ke permukaan dan berteriak, "Aku rasa ada sesuatu di dasar sana, aku bisa melihat sesuatu."

Seorang pemuda yang berdiri di dekatnya, putra sheriff setempat, terjun untuk melihat apakah dia bisa menemukannya. "Aku meringkuk seperti janin yang tersangkut di selokan di bagian bawah. Dia mampu mengangkatku dan membawaku ke permukaan", katanya.

Seorang pemuda lain dari group remaja, Dan, membantu menariknya keluar. Ketika mereka merentangkan tubuhnya di dek kolam renang, mereka terpana dengan penampilan Steffani. Matanya berputar keatas dan dia tampak tak bernyawa.

Teman-teman Steffani mulai berkumpul di sekelilingnya. Satu demi satu mereka mulai menyebut nama Yesus. "Itulah satu-satunya hal yang mereka tahu harus lakukan, adalah memanggil nama Yesus, sementara mereka berdiri di sana mencari tahu apa yang harus mereka lakukan", katanya.

Penjaga mulai melakukan CPR tetapi tidak berhasil.


Tami berlari untuk menghubungi orang tua Steffani, Warren dan AdaMarie. Ketika ayah Steffani mengangkat telepon, ia mendengar suara histeris Tami diseberang sana: "Mereka menemukan Steffani di dasar kolam! Mereka bilang dia sudah mati, tetapi Anda harus segera datang. Mereka membawanya ke rumah sakit."

Seorang wanita muda yang bekerja di komplek meraih telepon Tami "Memang benar apa yang dia katakan padamu" katanya kepada ayah Steffani yang terpana. Seorang teman dari gereja kebetulan tiba di rumah mereka ketika orang tua Steffani pergi.

"Ketika Shirley tiba, orangtuaku memberi tahu dia apa yang terjadi dan dia masuk ke rumah kami dan berdoa serta menjadi perantara atas hidupku. Dia berdoa dan berseru kepada Tuhan agar aku akan hidup dan tidak mati dan bahwa otakku akan dilindungi – tidak ada kerusakan otak", kenangnya.

"Ambulans membawa Steffani ke rumah sakit kecil terdekat yang berfungsi ganda sebagai fasilitas perawatan. Seorang dokter yang dihubungi kebetulan sedang bermain golf, diberitahu tentang situasinya. Dokter diberitahu bahwa dia sudah lewat. Tidak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka meletakkanku dilorong tertutup dengan kain karena mereka tidak tahu harus berbuat apa."

Selama keadaan darurat sesuatu yang luar biasa terjadi pada Steffani.

Baca juga: Pengalaman Profesor Ateis "Mendekati Kematian di Neraka" Mengubah Hidupnya


"Aku memiliki pengalaman dengan Tuhan dan aku benar-benar melihat rohku keluar meninggalkan tubuhku dan aku melihat tubuh alamiku di dasar kolam", kenangnya.

Setelah rohnya meninggalkan tubuhnya, dia ingat berjalan melintasi dasar kolam, lalu menaiki tangga perak dan keluar dari kolam.

Ketika rohnya meninggalkan kolam dia melihat ke atas. "Aku melihat keluar angkasa dan aku melesat seperti roket. Aku pergi menembus atmosfer. Itu sangat cepat, dalam sekejap mata, aku tiba di sana."

Hal berikutnya yang aku tahu, aku berada di gerbang surga dan ada pertempuran untuk hidupku. Aku mendengar setan berkata bahwa dia ikut denganku. Aku juga mendengar Tuhan berkata tidak, dia tidak akan. Ini terjadi berkali-kali hingga tiga kali.

Kemudian dia mendengar Yesus berkata: 'Ini belum waktunya dan ketika waktunya tiba dia akan bersamaku'.


Steffani mengingat gerbang surga sangat tinggi dan berwarna putih. "Aku ingat warna-warna cemerlang. Aku ingat perasaanku saat itu, karena tidak ada rasa takut. Ada kepastian tentang cinta dan bahwa aku aman dan terlindungi. Tidak ada yang lain, bahkan perdebatan tentang hidupku tidak mempengaruhi perasaanku. Aku tahu aku aman", katanya.

Segera setelah Yesus berkata dia akan bersamaKu, Steffani membuka matanya di brankar rumah sakit. "Gerakan lambat dan sulit bernafas. Aku ingat melihat teman-teman group remajaku bersandar di dinding sambil menangis".

Ayahnya masuk melalui pintu dan berlutut sebentar. Lalu dia bangkit dan menarik selimut yang menutupi wajah putrinya dan gadis itu berkata "hai ayah" dengan sangat lemah.

"Mereka mulai bertanya padaku dan aku ingat mengatakan kepalaku sakit. Aku ingat nama dan tanggal lahirku. Para perawat mendiskusikan apa yang harus dilakukan padaku."

Hebatnya, mereka mengizinkan Steffani keluar dari rumah sakit.


Baca juga: Kesaksian Cesar Carbello Tentang Perjumpaan dengan Yesus yang Menyelamatkannya

"Mereka mengirimku pulang, tetapi aku sering hilang kesadaran. Aku ingat berbaring di tempat tidur ibu dan ayahku, merasa sangat lemah dan sakit untuk bernafas."

Steffani berusaha berdiri dan pingsan.

Khawatir dengan kondisinya, orang tua Steffani membawanya ke ruang gawat darurat di Dodge City Hospital. Staf medis mereka melanjutkan untuk memberikannya pertanyaan: "Apakah kamu tahu apa yang terjadi? Berapa lama kamu dibawah air?"

Ketika seorang dokter menyentuh kepalanya dia berteriak. "Saat itulah dia menemukan tempatnya. Dia memeriksa dan mendiagnosa bahwa aku mengalami gegar otak".

Dokter menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengerti ini. Semua ini tidak masuk akal. Tidak ada air diparu-parunya."

Steffani menyampaikan dia kesulitan bernafas.

"Aku dapat mengatakan bahwa klorinnya sangat kuat" dokter itu mengamati "karena yang mungkin menyakitkan adalah kamu menelan air tetapi langsung mengalir ke perutmu. Itu terlihat lecet diperutmu"

Kemudian Steffani mengejutkan staf dokter dengan kesaksian yang tak terduga. "Aku tahu yang terjadi padaku," katanya. "Yesus menyelamatkan hidupku. Dia menyelamatkan hidupku hari ini. Dia mengembalikan hidupku."

Baca juga: Mantan Penari Striptis Bertemu Yesus – Kesaksian Meleah Jones


Menanggapi kata-kata mengejutkannya, semua orang di ruangan bertepuk tangan. "Kami tidak punya penjelasan," kata dokter. "Satu-satunya hal yang bisa kita katakan adalah kita akan menyebut ini keajaiban".

Mereka menjaga Steffani selama 24jam dan mengamati. Sepanjang siang dan malam, perawat dan dokter datang ke kamarnya. "Aku ingin melihat keajaiban ini", kata mereka.

Sesuai rencana, keluarga Steffani pindah ke Colorado dalam dua minggu, yang menghambat penyebaran cerita. "Itu beberapa saat sebelum aku mulai membagikan kisahku", katanya. Beberapa tahun kemudian, dia membagikan kisahnya di pertemuan doa atas bisikan ibunya.

"Aku menyimpan untuk waktu yang lama, menyimpan sesuatu di dalam diriku. Aku tidak banyak berbagi kisah itu karena terkadang ketika kamu membagikannya, orang-orang melihatmu seperti kamu gila," katanya.

Dia mencari Tuhan tentang "pertengkaran" tentang hidupnya antara Yesus dan Setan. Dia memandang Yesus sebagai Gembala Baiknya dan bahwa tidak ada yang bisa merebutnya dari cengkraman-Nya.

Dia bertanya-tanya bagaimana ada perdebatan jika dia aman di dalam Dia.

Kemudian Yesus menekankan ini di hatinya: 'Di sanalah kamu berada. Kamu berada di telapak tanganKu dan tidak ada yang bisa merebutmu dariKu.'

Baca juga: Kesaksian Pengacara Muslim Fulani Nigeria, Binta Faruk yang Bertemu Yesus Langsung 


"Bagaimana dengan pertengkaran itu?" dia bertanya.

Steffani Besch hari ini
Musuh berargumen untuk tubuh Musa. Itu ada pada Yudas, jawabNya.

Jadi Steffani membuka kitab Suci dalam Yudas 9 dan terkejut melihat bagian ini: "Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata : "Kiranya Tuhan menghardik engkau".

Dalam 10 tahun terakhir Steffani menjadi lebih terbuka untuk berbagi kisahnya. "Orang-orang mengatakan kepadaku bahwa orang perlu tahu bahwa Tuhan melakukan mukjizat setiap hari".

"Ini bukan hanya sebuah cerita; Dia benar-benar membangkitkan orang mati"

(Sumber : godreports.com)

Posting Komentar untuk "Dalam Pengalaman Menjelang Kematiannya, Yesus dan Setan Memperdebatkan Hidupnya"