Recent Posts

    Tertarik Kepada Salib, Pemuda Muslim Ethiopia 'Murtad': "Salib Menjadi Tiket Gratis ke Surga"


    Penangkapan dan penghilangan orang percaya adalah hal biasa di Etiopia, dan mereka yang meninggalkan Islam menghadapi perlakuan buruk yang keras dari anggota keluarga.

    Dalam Daftar 50 Negara Paling Berbahaya bagi Umat Kristen menurut Open Doors, Etiopia menduduki peringkat 28. Di Negara ini, peraturan pemerintah membatasi kebebasan beragama, sementara di beberapa bagian dari negara Muslim konservatif ini menjadi tantangan bagi orang-orang Kristen, terutama bagi yang 'murtad' dari Islam.


    Bagi Ibrahim, yang menjadi sumber penganiayaannya adalah keluarganya.

    “Saya diajari bahwa membunuh orang Kristen itu baik,” kata Ibrahim* (nama disamarkan demi keamanan) yang baru berusia 20 tahun. “Keluarga Muslim saya mengajari saya bahwa itu adalah cara untuk mendapatkan 'tiket langsung ke Surga’.”

    Namun salib memikat Ibrahim.

    "Saya sungguh tidak mengerti apa makna salib selain fakta bahwa itu adalah simbol Kristen," Ibrahim menjelaskan. “Tetapi saya terus menelitinya, dan diam-diam mulai menghadiri gereja Injili setempat. Akhirnya, saya mengerti bahwa salib adalah keselamatan saya. Salib adalah 'tiket gratis' saya ke Surga, menuju keselamatan.”

    Ibrahim mengingat hari ketika dia menyerahkan hidupnya kepada Yesus. Ia sadar apa yang diajarkan orang tuanya tentang agama Kristen. Dia tahu keputusannya untuk mengikuti Yesus akan berpotensi fatal.

    Ayah saya bahkan telah memperingatkan saya sebagai seorang anak bahwa jika saya menjadi seorang Kristen, dia akan membunuh saya,” kata Ibrahim. “Saya tahu perubahan iman saya akan membawa rasa malu kepada keluarga. Tidak akan ada jawaban lain dari mereka selain berusaha membunuhku. Saya sadar saya tidak bisa memberi tahu mereka, saya sadar ancaman mereka tidak hanya verbal. Mereka benar-benar akan berusaha membunuhku.”

    Ibrahim merahasiakan imannya. Ketika dia pergi ke gereja, dia akan memberi tahu orang tuanya bahwa dia akan pergi ke pertandingan sepak bola.

    “Ketika musim sepak bola akhirnya berakhir, saya terus menghadiri ‘sepak bola’.”

    Sampai suatu hari ketika Ibrahim pulang. Dia melihat wajah orang tuanya dan menyadari ini adalah hari dimana hidupnya akan berubah.

    "Tidak ada pertandingan hari ini," kata ayahnya. “Kamu telah menipu kami! Kamu berbohong kepada kami! Kemana saja kamu?"

    Baca juga: "Ingin Melihat Yesus" Membuatnya Benar-Benar Melihat Yesus - Kisah Ali Sayed dalam "The Cost: My Life on a Terrorist Hit List"


    Ibrahim berusaha menghindari menjawab pertanyaan mereka. Ayahnya mengatakan dia telah mendengar dari orang lain bahwa putranya telah menghadiri gereja. Dia mengatakan pada Ibrahim bahwa dia akan mengkonfirmasi dengan sumbernya sebelum dia mengambil tindakan apapun.

    “Saya tahu saya harus lari. Saya tidak membawa apa pun kecuali pakaian di badan saya.”

    Untuk sementara waktu, Ibrahim tinggal di jalanan sampai seorang penginjil menelepon, mengatakan dia bisa tinggal bersamanya. pemuda itu tinggal di sana selama tujuh bulan sebelum seorang kerabat melaporkan keberadaannya kepada ayahnya.

    “Dia telah mengintai saya selama beberapa waktu dan tahu persis di mana saya tinggal dan bekerja dan menghadiri gereja. Dia memberi tahu ayah saya di mana menemukan saya.”

    Masih marah tentang keputusan Ibrahim untuk berpindah agama, ayahnya datang ke tempat kerja Ibrahim dan secara terbuka berteriak kepadanya, melecehkan dia di depan semua orang.

    “Dia menuduh saya mengkhianati keluarga dan mempermalukan mereka. Saya harus pergi lagi.”

    Sekali lagi, Ibrahim hanya memiliki pakaian di badannya.

    Saat itulah Ibrahim bertemu dengan seorang relawan dari Open Doors yang mengatur tempat baginya untuk tinggal. Saat ini, Ibrahim masih bersembunyi. Saudara-saudaranya sedang mencari dia untuk membunuhnya dan penginjil itu yang melindunginya, kata Ibrahim.

    Baca juga: Secara Ajaib, Yesus Sembuhkan Kanker Wanita yang 'Tidak Dapat Disembuhkan'


    "Tidak ada jalan kembali bagi saya," kata Ibrahim tegas. "Sebelum datang kepada Kristus, saya membenci orang-orang. Saya tidak percaya. Ketika saya menyerahkan hidup saya kepada Kristus, saya harus meninggalkan rumah saya dan semua yang saya cintai di belakang. Saat itulah saya mulai mencintai orang-orang."

    “Damai mengisi hidupku. Orang mengukur hidup mereka dengan apa yang mereka miliki, tetapi saya tahu bahwa kedamaian berasal dari Kristus.”

    (Sumber: Open Doors)

    1 Komentar untuk "Tertarik Kepada Salib, Pemuda Muslim Ethiopia 'Murtad': "Salib Menjadi Tiket Gratis ke Surga""

    1. rnereka yg hidup mencari salib Kristus adalah mereka yg di pilih menjadi pengikut Kristus,,dan mrk tidak menolak akan Kuasa RohbKudus

      BalasHapus

    Iklan Atas Artikel


    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel