Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gara-Gara Berpindah Iman, Guru Agama Ini Diserang Secara Brutal dan Harus Kehilangan Keluarganya


Seorang mantan syekh (guru agama Islam) di Uganda Timur telah bersembunyi sejak dia kehilangan keluarganya karena menaruh kepercayaannya kepada Kristus dua tahun lalu, namun bulan lalu dia ditipu dalam sebuah pertemuan yang mengancam jiwanya.

Mulangira Ibrahim, 27, sedang dalam perjalanan ke rumah pastornya setelah kebaktian gereja di Pulau Jaguis Danau Victoria, di Distrik Mayuge, pada malam hari tanggal 16 November ketika dia menerima telepon dari seorang yang tidak dikenal yang mengatakan bahwa pastor tersebut ingin bertemu dengannya kembali di kompleks gereja.

Tanpa berpikir panjang, Ibrahim pun berbalik.


"Dalam perjalanan menuju gereja, empat orang menghentikan saya dan kemudian menangkap saya dan mulai mengancam saya bahwa jika saya tidak mengingkari agama Kristen dan kembali ke Islam, maka mereka akan membunuh saya," kata Ibrahim kepada Morning Star News. "Saya tidak menjawabnya, dan seseorang mulai menampar saya, sementara yang lain memukul saya dengan benda tumpul. Ketika saya mulai berteriak meminta pertolongan, saya menerima lebih banyak pukulan dan dari situ saya kehilangan kesadaran saya."

Ketika dia sadar, dia mendapati dirinya dikelilingi oleh polisi, pastor dan anggota gereja, katanya. Pastor Charles Musana dari Evangel World Vision Church membawa Ibrahim ke sebuah klinik terdekat untuk pengobatan.

"Ibrahim menderita sakit punggung, cedera kepala dan kaki, dan kami menemukannya dalam keadaan berlumuran darah," kata Pastor Musana. "Kami membawanya ke klinik Jaguima, dan keesokan harinya kami melaporkan kejadian tersebut pada polisi di bawah rujukan polisi No. 14/19/11/2017 tentang kekerasan yang mengancam jiwa."

Ibrahim kini sudah pulih di rumah pastor.

"Serangan itu sangat parah sehingga butuh lebih dari satu bulan bagi Ibrahim untuk pulih dari beberapa luka," kata pastor tersebut.

Karena pertobatannya dua tahun lalu, orang-orang Muslim membawa istrinya, Nalunkuma Joweria, dan ketiga anaknya yang berusia 8, 6 dan 4, darinya setelah mengetahui bahwa dia telah meninggalkan Islam, katanya.

Dari desa Butegwa, Kabupaten Bukooli di Kabupaten Bugiri, Ibrahim telah dikirim untuk menyebarkan Islam di pulau Jaguzi sebagai syekh dari Masjid Madrasah Noor Islamia.

Di pulau itu, dia mendapatkan sebuah penglihatan di mana dia melihat dirinya memegang sebuah Alkitab, diikuti oleh yang lain di mana dia menghadiri studi Islam di Iran, katanya. Sebagian besar orang Iran mempraktekkan Syi'ah Islam, menganiaya Muslim Sunni di Uganda, namun bagaimanapun, Ibrahim mengatakan bahwa kedua penglihatan itu membuatnya terganggu.

Saat itu, dia memutuskan untuk mengunjungi pastor Evangel World Vision Church dan, untuk menghilangkan ketegangan agama, dia meminta seorang anak Muslim kecil dari sekolah Islam tempat dia mengajar untuk menemaninya dan memberi tahu pastor bahwa dia berada di luar kantor gereja.

Setibanya di pintu gedung gereja, dia mengatakan bahwa dia sementara dibutakan sedemikian rupa sehingga dia terjatuh ke tanah, dan anak tersebut menjadi ketakutan dan berlari ke masjid terdekat sambil berteriak, "Syekh telah dibunuh oleh orang-orang Kristen."


Pendeta tersebut mengatakan bahwa dia keluar dari kantornya dan menemukan Ibrahim di lapangan sedang memuji Yesus. Orang-orang Muslim yang berlari ke tempat tersebut juga menemukan Ibrahim memuji Isa, Yesus Kristus, sebagai Tuhan. Mereka memukulinya namun kemudian melarikan diri saat sejumlah besar orang Kristen tiba. Saat itu adalah 4 Oktober 2015.

Umat Muslim setempat mendatangi rumah Ibrahim dan mengambil istri dan anak-anaknya. Ibrahim mengatakan bahwa mereka meninggalkan sebuah catatan tertulis bahwa dia tidak boleh kembali ke rumah tersebut, yaitu rumah yang telah mereka sewa untuknya. Mereka juga memecat dia sebagai syekh Masjid Madrasat Noor Islamia.

Ketika dia pulang ke rumahnya di desa Butegwa, keluarga Muslimnya telah mengambil rumahnya dan menjual sebidang tanahnya, membuatnya kehilangan tempat tinggal.

"Sejak saat itu, hidup menjadi sangat sulit bagi saya," kata Ibrahim kepada Morning Star News. "Saya tidak punya tempat untuk meletakkan kepala saya, tapi syukurlah gereja memberi saya tempat tinggal di dalam kompleks gereja."

Segera setelah menjadi seorang Kristen, Ibrahim mulai menerima pesan yang mengancam.

"Selama dua tahun terakhir saya telah membatasi diri di dalam kompleks gereja dan rumah pastor, yang berjarak 1,5 kilometer, karena umat Islam terus-menerus mengirim pesan bahwa mereka mau kepala saya karena saya telah membuang Islam," katanya kepada Morning Star News melalui telepon.

Polisi sedang menyelidiki serangan 16 November namun belum menangkap siapapun, kata beberapa sumber.

Baca juga: Tadinya Membenci dan Ingin Membunuh Orang Kristen, Namun Gadis Ini Dijamah oleh Kasih Yesus yang Mengubah Hidupnya Secara Total


Insiden tersebut merupakan salah satu dari banyak serangan terbaru oleh tokoh non-pemerintahan pada orang-orang Kristen di Uganda Timur. Konstitusi Uganda dan undang-undang lainnya mengatur kebebasan beragama, termasuk hak untuk menyebarkan iman seseorang dan beralih dari satu agama ke agama yang lain.

Muslim membentuk tidak lebih dari 12 persen populasi Uganda, dengan kebanyakan terkonsentrasi pada bagian timur di negara ini.

(Sumber: Gospelherald.com)

Posting Komentar untuk "Gara-Gara Berpindah Iman, Guru Agama Ini Diserang Secara Brutal dan Harus Kehilangan Keluarganya"